Cerita tentang Kopdar

Hari ini, malam nanti, setelah lama cuma bisa bersua via jejaring sosial ataupun ngobrol lewat ketikan di messenger, akhirnya kesampaian juga bertemu dengan kawan, eh kawan ?

Ya kawan, teman wanita, tepatnya. Yang begitu akrab di dunia maya.

Sejak pesawat landing beberapa saat yang lalu, hatinya sudah tak sabar, ingin berjumpa dengan raut manis yang cuma dikenalnya lewat email yang masuk di inboxnya. Wanita itu katanya tak terbiasa mengumbar privasinya ke publik. Seraut wajah itu pun akhirnya berhasil dia dapatkan setelah percakapan panjang di sela-sela rehat pekerjaannya di malam hari.

Siang ini sampai sore, lelaki itu memang harus menunda rasa ingin bertemunya. Pekerjaannya yang menuntut dia datang ke kota inilah penyebabnya.

…..

Akhirnya malam pun tiba, setelah meletakkan segala tetek bengek pekerjaannya di hotel. Menyegarkan badan di kamar mandi, lalu siap-siap, rapi-rapi, bertemu dengan sang wanita, janjinya sih ketemuan di cafe, seratus meter dari tempatnya menginap.

Telepon genggamnya berbunyi. Mengangkatnya.

“Hai..” Nada riang disana menyambutnya. Suara yang sudah dikenalnya.

“Hei .. Sudah dimana ?”

“Aku sudah di cafe ini,..”

“Ok, tunggu ya, bentar aku kesana”

Dan kedua kakinya pun melangkah tak sabar.
Memasuki temaram cafe, dan matanya refleks menuju sudut kanan, dekat taman kecil di dalam ruangan itu.

Seorang wanita, ah gadis tepatnya, yang juga refleks memandang ke arahnya.
Lelaki itu tersenyum, sedikit ragu.

“Gadis ?” Mengulurkan tangannya.
“Syn.. ?” Senyumnya sumringah, membalas tangan yang terulur itu.

“Apakabar ?..” Berbarengan mengucapkan kata itu, lalu tertawa, berbarengan lagi.

Lalu satu setengah jam berlalu begitu saja, alunan live musik pun seakan menjadi soundtrack pertemuan dua manusia itu, yang seakan sudah kenal dari kecil. Akrab sekali.

Sampai akhirnya.

“Syn, udah malam. Kalau nggak keberatan, bisa tolong anterkan aku pulang nggak ?”

Lelaki itu mengangguk pasti ke arah gadis yang tampak cantik malam itu.
“Ke rumahmu ?”

“Nggak, aku menginap di hotel yang sama denganmu, kok”
“Hey, kok baru bilang ? Kenapa pakai nginep di hotel segala ?”
“Ada urusan kantor yang mengharuskan aku nginep disitu juga, lagian rumahku kan jauh dua jam dari sini..”

Dua pasang kaki itu kemudian melangkah, santai menuju hotel.
Sesampainya di lobi, lelaki itu teringat sesuatu.

“Kamu nginep di kamar berapa ? Aku anter sekalian ya”
“501, ah ya harus dong” Matanya mengerjap.

Memasuki lifit, keluar dilantar 5. Lalul menuju kamar paling sudut, mengarah ke jalan raya.

Gadis membuka kunci pintunya, berbalik tiba-tiba ke arah lelaki itu.
“Syn..”
“ya ? ” Kaget dia.

“Temani aku malam ini, mau nggak “

Belum sempat lelaki itu menjawab, tangannya sudah ditarik ke dalam kamar, aroma wangi gadis malah semakin memikatnya, tak kuasa menolak. Pasrah saja.

Pintu 501 pun ditutup dari dalam.

…………

“Mas.. mas.. !”

Matanya masih berat, berusaha memicingkannya, cahaya dari jendela membuatnya silau.

“Gadis.. ?” Berusaha mengenali wajah di hadapannya. Tubuhnya terasa remuk redam.

Tapi lamat-lamat dia sadar, bukan gadis yang mempesona itu dihadapannya.
dan bukan cuma satu orang, ada tiga orang yang memandangnya, dengan was-was ?
Berseragam, pelayan hotel ?

Bingung.

“Minum dulu, mas. Maaf mas, kami lupa mengingatkan sampeyan.
Hotel ini masih berduka, putri tunggal pemilik hotel ini, meninggal karena gantung diri di kamar ini, dua bulan yang lalu, .. “

Belum usai pelayan hotel itu bercerita, pandangannya terasa berat, gelap.

Pingsan.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: