Januari Hari Kesebelas

Melepaskan pelukmu perlahan.
Memandang wajah piasmu, mengusap selajur bening yang perlahan membias di pipi kananmu.

Lagi-lagi kau memaksaku untuk menerima pelukmu,
mendengar nafasmu yang tersendat di telingaku.

Belum ada sepatah katapun darimu, bahkan saat sudah disisiku, di dalam sedan tua yang setia.
Menyusuri jalan saja, padahal malam baru saja turun.  Tak terasa ya waktu.

Lalu kau menoleh, tepat sesaat setelah laju melewati batas kota.
“Antar aku pulang..”

Aku mengangguk saja.

“.. dan temani aku..”
Refleks kaki kananku terangkat, menurunkan kecepatan.

“.. dan jangan pergi sampai pagi nanti..”
Kaki kiriku yang sekarang spontan menginjak pedal rem.

Berhenti sejenak di sisi jalan.  Memandangmu,  menanyakan kepastian dicantik wajahmu.
Dan sekilas kecupan di pipi kiriku sebagai jawabnya.
Kau sedikit tersipu setelah itu.

Tak perlu waktu lama setelah itu,
Sedan merah melaju dengan kecepatan penuh,
dengan hati yang meledak-ledak.
menuju ke utara sudut kota…

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: