Saat Pulang Kerja

Scene pertama,

Seorang lelaki muda, masih pake seragam kantor, terlihat kuyu, seakan dii siang yang panas itu seluruh semangat hidupnya tersedot ke langit.  Langkahnya pelan memasuki halaman rumahnya, lalu mengucapkan salam sambil mengetuk pintu, juga dengan pelan.

Seorang wanita muda, membukakan pintu sambil membalas salamnya.  Tersenyum, walau dengan raut sedikit bingung.  Tangannya menjemput tas kerja yang tadi dibawa lelaki muda itu.

Lelaki itu langsung duduk begitu saja di lantai ruang tamu, menghela nafas.  Memang tidak ada sofa di rumah mungil itu, hanya ada karpet plastik terhampar rapi.

‘Ada apa, mas ?’ Tanya wanita itu sambil duduk di samping sang lelaki.
‘Biasa, soal di kantor, kerjaan yang kukerjakan seminggu penuh itu seperti ga ada artinya, ga ada harganya…’ 
Dan terus begitu, semua tertumpah begitu saja, dan wanita itu cuma mendengarkan saja dengan sabar, tanpa berusaha menyela ungkapan dan keluhan lelakinya.

Setelah semuanya usai tersampaikan, ada sedikit lega di wajahnya, walau masih ada rona tak puas disitu.

‘Mas, saya bikinkan kopi dulu ya ?’  Tawar si wanita sambil beranjak dan tersenyum.

Lelaki itu mengangguk sambil balas tersenyum..

———

Scene kedua.

Seorang lelaki muda, masih memakai pakaian kantor lengkap, terlihat tak bersemangat, seakan di siang yang panas itu seluruh semangat hidupnya menguap ke udara. Langkahnya pelan memasuki halaman rumahnya, lalu menyalakan bel, juga dengan pelan.

Seorang wanita muda, membukakan pintu. Dengan raut sedikit bingung. Tangannya menjemput tas kerja yang tadi dibawa lelaki itu.

Lelaki itu masuk ke rumah, dan menghempaskan dirinya ke sofa yang terhampar di permadani ruang tamunya yang luas.

‘Ada apa, bang ? Kok kayak ada masalah gitu ? Masalah kantor lagi ya ?’ Langsung saya berondongan bertanyaan itu tercecar.

‘Iya, kerjaan kemaren, anak buah mas mengacaukan semua rencana, dan…’
Belum habis kalimatnya, wanita itu langsung memotong.

‘Mas, sih.  Kan kemarin udah saya bilang, tugas kayak gituan mestinya gak diserahin ama anak kemaren sore, apalagi itu kan proyek gede.  Gimana sih.. belum lagi …’

Semua ucapan tajam itu, mengalir deras.
Lelaki itu menggelengkan kepalanya sejenak, lalu beranjak mengambil tas kerjanya.
Mengambil MacBook nya, dan menghantamkannya keras-keras ke mulut wanitanya.

Wanita itu terjengkang, lalu terkapar di tengah ruang tamu.
Lelaki itu lalu melangkah ke luar rumah.  Menyalakan mesin mobilnya, lalu deras menghilang ke jalanan.

——

See ?
Dua lelaki, dua wanita, di situasi yang sama.
Namun beda endingnya.

Wanita itu menurut saya, mampu membuat siang yang panas menjadi sejuk,
atau malah menjadikan siang menjadi lebih gerah…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: