Kenapa Copas ?

Jujur. Ini cuma soal selera, bukan maksud apa-apa.
Dan saya nulis ini dari sisi user, sebagai pembaca.

Saya juga baru menyadari dengan sesadar-sadarnya, saat (lagi-lagi) si badut sirkus nyentil saya dengan menyebut kata pulisi kopas. *argh kenapa musti ngutip nama sampeyan lagi.. 😀 *

Dulu, waktu masih ada jaman lagu cover version, musik yang sama dengan vokal yang jelas beda. Sama sekali tidak bisa memuaskan saya, akan musik yang seharusnya juga sama. Tapi warna vokal yang beda membuat sebuah lagu un jadi berbeda secara keseluruhan.

Demikian halnya disaat saya membaca tulisan, yang ternyata bentuknya adalah copy paste karya orang lain, yang entah dipublish dengan seijin empunya atau tidak.
Sebenernya sih, apa hal itu dipedulikan saat ini ? Yang jelas kopi paste bulat-bulat, bahkan kadang seasli-aslinya tanpa editing sama sekali, jadinya kurang seru, mungkin.

Lain halnya kalau diceritakan ulang, dengan gaya bahasa sendiri, dengan cara yang baru dan beda, kayaknya lebih asik.
Dan menceritakan satu hal dengan begitu, adalah hal yang beda.

Mungkin, bagusnya. Apabila ada tulisan yang bagus, untuk di share. Ambil intinya, lalu kembangkan dengan gaya bahasa sendiri, dikasih pelengkap dan tambahan atau ulasan lagi, malah lebih asik kayaknya.

Semua itu ya itung-itung belajar, belajar yang tidak mengenal kata : akhir.
bukan cuma ngikut budaya instan, yang keasikan main comot dan ploff : tau-tau jadi aja.
Toh, untuk menjadi bagus, smua pasti melalui proses, kan ?
mengutip sih ok. Tapi kalo mengutip overall.. eh itu mah bukan ngutip 😀
*oh ya pengecualian tentu kalo ngopi dari blognya, eh ini mah semacam crossposting kali ya*

Sekali lagi tuisan ini nggak punya maksud apa-apa,
selain, Saya cuma sayang saja, ngeliat warga yang punya bakat nulis bagus, cuma bisa dipendam dan gak diasah. *jadi inget pisau* 😀

Soal cara nulis, masing-masing punya caranya masing-masing.
Tapi sungguh, sesuatu yang orisinil, dan keluar dari hati masing-masing,
akan nyaman untuk dinikmati dan diresapi.

Mungkin itu pula, inti sari dari : ngerumpi dengan hati,
sesuatu yang sedari awal didengungkan oleh founding mothers the ngerumpi

Dan, oh ya,
Sekali lagi.
kalaupun tetap banyak yang suka posting menggunakan format kopas,
ya nggak apa-apa, itu kan hak mereka.
Silakan, monggo, sok..

tapi ya itu, saya tidak menikmatinya sepenuh hati 😀
*ya ya ya saya memang sok tau, harap maklum saja.. 🙂 *

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: