Saat Jumpa Dirimu

Siapa yang tidak kenal aku ? Tidak ada yang kenal, kan ?
Sehari-hari aku adalah pedagang buku, aku suka buku. Membaca adalah dunia ketiga setelah bertualang dan mencoba hal-hal yang baru.

Sepanjang siang, kau temui saja aku di los G3. Aku pasti senantiasa melayani pelanggan setiaku. Kadang sampai hapal dengan genre bacaan mereka. Mereka suka blusukan nyari buku dikiosku, karena itu tadi, aku tahu selera mereka, dari yang umum, sampai yang aneh. Dari yang ringan sampai yang berat. Dan aku bisa saja menyediakan buku langka yang tidak akan kautemui di jajaran kios buku lainnya, percaya padaku deh.

Tapi, malam hari. Tidak pernah ada yang tahu. Kalau jika aku bersama dua sahabat setiaku, Jimi dan Gaho, lengkap dalam Kijang biru tanpa plat itu, artinya kami siap beraksi. Menguras harta para orang kaya, yang tentu sudah kami survei sebelumnya.
Kami sudah hapal data orang-orang yang baru saja kaya mendadak dan sebagainya, terlebih yang sepertinya dari hasil korupsi.

Perubahan di lingkungan sekitar harus kau tangkap, bung. Pintar-pintar saja mengamati kalau sesuatu yang beda terjadi.
Seperti ….. di selatan kota itu. Bisnisnya yang mulanya biasa saja, dalam sebulan bisa berkembang pesat, ternyata benar, hanya karena salah satu kerabatnya terangkat menjadi salah satu petinggi kota ini. Semuanya tiba-tiba seperti bling, berubah dalam sekejap.

Dan itulah salah satu sasaran kami, minggu tadi. Semua data terperinci, sudah di genggaman, jadi final touchnya gampang.
Aku keras dalam hal perencanaan. Semua detil harus diperhitungkan, kedua rekanku sangat paham akan hal itu.

Beraksi saat pemilik harta tak halal itu tidak ada di istananya, adalah pilihan utama.
Menghindari darah tumpah, adalah prioritas selanjutnya. Tapi jangan salah, becengnya Jimi dan belati kembar Gaho, siap beraksi kalau sesuatu di luar rencana terjadi.

Kalau kau atau kalian fikir, hasil jarahan kami semata-mata hanya untuk ditumpuk, lalu bersenang-senang. Kau salah.
Kami selalu menyisihkan sembilan puluh persen dari semua kegiatan yang dimata orang adalah kejahatan itu, untuk orang yang benar-benar memerlukannya.

Menyenangkan rasanya berbagi, membagikan hak orang lain yang memang semestinya dibagikan, bukan dimakan oleh perut iblis yang sering mangaku-aku baik, walau secara tak langsung.

Oh ya. Kata mereka, aku masih muda. dan memang begitu nyatanya, usiaku baru menjelang dua puluh tujuh tahun. Para pelangganku yang rata-rata mahasiswa ataupun para bapak yang suka mencarikan buku buat anak-anaknya, sering memperolokku. Katanya sudah saatnya perlu asisten, pendamping wanita katanya.
Aku cuma tersenyum, sayangnya perempuan hanyalah urusan kesekian dalam hidupku.
Atau kalimat klise yang bisa dipaksakan mungkin adalah ‘ belum ada yang cocok’. Simpel saja, kan ?

Semua berjalan seperti biasanya. Sampai suatu hari, seorang perempuan. Merubah pandanganku tentang ‘ perempuan’.

Entah mataku yang lagi error. Ataukah akibat siang yang begitu panas. Rasanya aku melihat seorang Amber Valletta. jenis perempuan yang ah,, menggoda mungkin ? Atau megang banget ? lebih tepatnya inspiratif, bagiku eh.
Hey, ngaco saja. Mana mungkin seorang Amber, siang-siang gerah gini, blusukan nyari-nyari buku bekas ? Beneran kacau nih.

Kusamperin saja ah.
‘Nyari apa, nona ?’
Eh, tersenyum tu Amber. Argh ember…

‘Chlinical Pharmacology-nya PN Bennet ada, bang ?’ Matanya asik saja mengamati deretan buku kedokteran di rak kiri depan.

Heh, beneran pinter nyari pilihan, dan ya ampun. Bukannya mengambilkan buku yang dimaksud, yang cuma ada satu, tersimpan rapi di deretan belakang.
Aku malah asik sendiri mengamati pelangaan baru ini.

Tinggi, garis wajah yang tegas, rambut sebahu yang hitam pekat, bukan pirang. Mata yang terkesan acuh dan juga hitam. Jins, kaos longgar dan backpack. Wow.

‘Bang, ada nggak ?!’ Matanya menatapku, sedikit kesal, dicuekin.

‘Eh, ada-ada.. Tunggu sebentar, nona’

Lalu, tak sekali itu saja aku melihatnya. Dia benar-benar menjadi pelanggan yang rajin, nyaris tiap minggu, ada saja yang dicarinya. Kalau nggak buku kedokteran, lain waktu menanyakan buku klasik, versi asli. Atau terkadang buku-buku aneh, yang jarang dicari oleh pelanggan lama.

Lama kelamaan. Bisa juga ngobrol dengannya. Enak ternyata diajak ngobrol. Soal apa saja, kayaknya dia tahu. Ensiklopedi berjalan, kataku.
Oh ya, namanya ternyata adalah …

*mau berangkat dulu ah, ntar kapan2 disambung lagi.. mulai ngaco kan ? 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: