…Hujan Kedua

dan,
kau sebagai kutub positif,
aku elektroda negatif, tentu

saat berjumpa, kita adalah pemantik petir
yang segera mengundang segenap awan untuk segera menghitam

titik air terus memecah, menembus udara
hingga sampai menetes di kedua telapak tangan kita,
yang saling genggam, berselaput bulir yang terus menetes tak jera

tak bosan pula wajahmu menengadah,
menatap arah jatuhnya tetesan yang berdenting-denting
dan lalu kau raup, untuk ditumpahkan lagi ke udara

tak lama sebelum wajah indahmu yang terbasuhkan air hujan,
menatapku, lalu tenggelam lekat dalam diriku
dan derasnya pun menggila lagi..

tapi,
sekarang hujan sudah berhenti
dan kembali,
aku merindukannya….

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: