Tunggu Aku

Padahal baru dua hari. Dua kali dua empat puluh jam. Tapi rasanya ada yang kurang, ada yang
terasa kurang lengkap. Seperti pelangi yang kurang satu elemen warna, mungkin.
Padahal, bukan sekali ini saja, kan ?

Tapi kau tentu tidak tahu. Akan sesuatu yang diberikan oleh Ketua Jurusan tadi siang. Nantilah kau kuberitahu, ya smoga tak ada masalah.

Sekarang sudah sore, menjelang maghrib, malah.
Rasanya katamu kemaren, untuk kumite wanita, diadakan pas malam hari.

Mungkin tak ada salahnya, sekedar mendengar suaramu.
Hey, sedang apa kau disana ?

Menekan angka delapan di telepon genggam. Ya angka itu untuk shortcut menuju nomormu. Kau sendiri yang iseng memasukkan nomormu sendiri, lalu memilih nomor itu sebagai jalan pintas untuk menghubungimu.

Saat kutanya, kenapa harus angka 8 ?
Katamu, angka 8 itu abadi, garis tak terputus.
Dan kau tersipu sendiri, saat menyatakan alasan simpelmu itu.

Dial pertama, putus dengan sendirinya, setelah nada sambung berupa potongan reffrain november rain, berulang dua kali.
Kali itu, nada sambung itu, aku yang memberikannya padamu.

Kau juga iseng bertanya kala itu, kenapa harus lagu itu ?
Kujawab saja, seandainya ada lagu yang bisa lebih menggambarkan tentang indahmu, mungkin akan kupilih itu.
Dan kali itu juga, kembali kau yang bersemu merah. Tersipu lagi. Tak bosan-bosan.

Dial kedua, perlu dua puluh detik lagi, sebelum akhirnya ada sahutan di seberang sana. Suaramu !

“Heyy. Aduh maaf, gak denger, tadi lagi di angkot”. Ada nada sedikit menyesal.
“Nggak apa-apa. Eh, kelayapan kemana sore gini ?”

“Itu, tadi ada temen, ngajak muter-muter kota. Keliling doang, ini lagi ngider di Ciwalk”

“Eh, bukannya ntar malem giliranmu, maju ?”

“Iya, ini juga bentar lagi balik kok. Lagian deket ini. Oh ya, kamu lagi dimana. ?”

“Kenapa ? Kangen ? ” Tanyaku iseng. Dan diam sejenak.

“Gak usah dijawab aja deh ya”. Ada nada riang di suaramu. “Dan , Doain aku ya ? “

“Jadinya, pulangnya kapan ?”

“Kenapa pake nanya ? Kangen ?” Lalu ketawa kecil, khasmu.

“Gak boleh nyontek ah. Jawabannya disamain aja deh, dengan jawabanmu”

“Kayaknya jadinya pulang senin deh. Sore. Tadi katanya, hasil kesepakataan gitu”

“Oh, ya udah. Oh ya, nginep dimana ?”

“di Buah Batu, kenapa ? Mau kesini ?” Tertawa lagi.

“Eh, boleh memang ? Aku susul beneran, nih”.

“Nggak usah, tunggu aja aku pulang. Jemput ntar ya, ntar aku telpon lagi deh. Eh, ini udah mau nyampe, udah dulu ya..”

“Ok, deh. Hati-hati ya. Jaga diri, ntar kujemput. Bye”

Dan percakapan pun terhenti.
Aku hanya tersenyum sendiri, mengingat tantangan kecilmu untuk kesana, mendatangimu.

Ya, nanti sajalah, kukatakan disana.

Kalau siang tadi. Aku dipanggil Ketua Jurusan, diberitahu bahwa proposal tim kami, masuk seleksi nasional.
Dan itu artinya, besok siang, aku juga diharuskan pergi ke kota dimana kau ada saat ini.

Tunggu aku besok.
Aku ingin mengejutkanmu..

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: