Tribute to Synyster

kawa, katanya

Langkahnya tergesa-gesa. Keringat membanjiri punggungnya, kaos hitam yang dipakainya terasa lekat ke badan.
Jalanan masih terlihat ramai, tapi tampaknya semakin ke ujung semakin terasa sepi.

Dia terus saja berjalan, menuju sudut kiri jalan itu.
Bangunan yang ditujunya itu, sebuah hotel bintang tiga di kota yang tidak begitu ramai.
HOtel yang berada tepat di sini sungai.

Melangkah dengan wajah datar, bertanya singkat pada resepsionis.
Tak peduli dengan pandangan curiga di mata mereka.
“Toh, aku nanya baik-baik”‘ fikirnya singkat.

Ada satu nama yang ditujunya.
Nama yang dicari-carinya dalam sepekan ini.

Lantai tiga yang ditujunya, lalu menuju satu pintu tak sabar.
Mengetuknya.
“Sebentar..”. Ada langkah menuju pintu.

Tampaknya memastikan tamu yang datang. Pasti mengintip dulu dari balik jendela kecil di pintu itu.
Pegangan pintu berputar.
“Cari siapa, y …. “

Wajah gothic itu memandangnya tanpa ekspresi, tanpa tubuh lagi.

Beberapa detik sebelumnya, kelebatan samurai itu memutus ucapannya, cepat.

 

*akhirnya kesampaian juga, bikin kenang-kenangan buat tamu di kampung saya itu 😀

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: