August 24, 2021

Sore yang belum benar-benar menghampiri senja, udara biasa-biasa saja, sudah tak lagi menyisakan sedikit pun dingin, menyerah dengan kekuasaan matahari sore. Di teras rumah dari kayu itu, sebuah keluarga menghabiskan sore harinya, seorang wanita, seorang anak kecil yang tak lelah minta digendong ayahnya, tampaknya. Berlari-lari saja dihalaman yang tak seberapa luas itu. Sementara wanita itu, ibu dari gadis cilik itu,isteri dari lelaki yang masih tertawa-tawa itu, duduk saja di kursi kayu, sambil tersenyum melihat tingkah ayah-anak itu.
“Ayah, besok belikan Putri mainan lagi ya, yah..” Setengah berbisik dia pada telinga lelaki yang sudah mulai terengah-engah itu.
“Mainan apalagi, mput ? Bukannya kemarin sudah, buku aja ya, biar tambah lancar membacanya, eh, turun bentar ya, capek nih…” Gendongan pun diturunkan .
“Gimana kalau dua-duanya aja, yah ? “ Tawar gadis kecil itu, sambil mendelik lucu dengan ayahnya.
“Eh sudah pinter nawar ya sekarang, siapa yang ngajarin nih, ibu bukan yang ngajarin ?” Bertanya sambil nuduh dia dengan wanitanya, melirik ke wanita yang sibuk saja dengan tabloidnya.
Yang ditanya tertawa pelan saja, sambil menggoyang-goyangkan telunjuk kanannya, sebagai ganti kata tidak.
“Satu aja ya..” Balik si ayah yang menawar.
“Ok, ayah, satu buku, satu mainan. Deal ?” Duh, anak seusia lima tahun, sudah mengerti kata deal. Lelaki itu membalasnya dengan gelitikan di pinggang Putri.
Sungguh, sore itu terhabiskan dengan gelak tak henti.
. . .
“Gimana kabarnya, cowokmu “ Si pullover coklat bertanya, sambil menghirup pelan lattenya.
“Baik-baik saja.terlampau baik, malah” Cardigan marun, yang ditanya, menjawab datar.
“Ya, bagus, kan ?”
“Akunya yang nggak enak, akhirnya. Apa-apa yang kuminta, di iyakan terus sama dia” Sahutnya lagi, sementara kedua jemari tangannya sibuk, tak lepas mempermainkan smartphone.
“Dasar kamu, aneh.. Eh, itu cincin baru, bukan ?” Pullover coklat setengah terbelalak, melihat benda baru yang melingkar di jemari kelingking sahabatnya itu. “Tapi kok di kelingking sih ?”
“Gak muat” Sahut pemilik jemari dimaksud, tak mampu menyembunyikan senyumnya yang perlahan terbit, ada rona bahagia di situ.
“Jadi, kalian ? .. “ Sekarang, pullover coklat berambut coklat itu, ternganga saja. Kalimatnya menggantung di udara.
“Iya, aku dilamar. Tadi malam..” Sekarang senyumnya merekah. Wajahnya pun merona merah.
. . .
Sebuah motor berhenti di depan sebuah rumah berpagar cukup tinggi, di komplek perumahan mewah di selatan kota itu. Lelaki gempal berjaket jins hitam di belakang turun, menghampiri pintu gerbang. Ada pos satpam di bagian dalam, sebelah kiri. Tapi tak ada orang disitu, bel di sudut sisi kiri gerbang di tekan. Sekali. Dua kali. Dan ada langkah yang menghampiri kemudian.
Seorang satpam, berseragam putih, menghampiri pemencet bel yang berambut rapi itu, helm full facenya dipegang dengan tangan kiri.
“Pak Irawannya ada, pak?” Lelaki itu bertanya, tersenyum.
“Kebetulan lagi ke kantor, mas. Ada apa ya, mas ?”
“Ada paket buat beliau, saya disuruh bos mengantarkanke alamat ini, tunggu sebentar pak.” Menghampiri motor yang masih hidup, pengendaranya pun masih berdiri di atas motor 150 cc itu. Mengambil sesuatu dari daypack di belakang pengendara motor itu, sebuah kotak kecil berbungkus coklat dari saku depan. Tak lama kembalike pintu gerbang.
“Sebentar, mas. Saya buka dulu ..” Pintu gerbang pun tergeser ke sebalah kanan.
Tak lama, setelah kotak kecil yang entah isinya apa itu, berpindah tangan. Satpam mengamati paket itu. Tapi cuma sebentar saja, sebelum helm yang sedari tadi dipegang dengan tangan kiri oleh lelaki berjins hitam itu, dihantamkan kuat-kuat ke kepala satpam malangitu. Berteriak pun tak sempat lagi, hantaman telak itu membuatnya tak sadarkan diri.
Jins hitam memberi isyarat anggukan pada kawannya di motor, yang langsung membunyikan klakson motornya satu kali. Dari belokan di timur jalan, sebuah mobil kijang menghampiri mereka. Jins hitam membuka pintu gerbang lebar-lebar, lalu dia, motor, dan kijang itupun masuk ke halaman yang luas itu, berjalan pelan dan langsung menuju teras.
Semuanya empat orang, turun dengan tenang dari mobil, dua memegang samurai, lainnya memegang FN.
Pintu di ketuk , seorang wanita muda tergesa membukakannya,, dan tak ada tanya apa-apa saat satu samurai menghunjam tepat di titik jantungnya, lalu terkulai dan terkapar di jejak darahnya sendiri. Enam orang itu pun, leluasa memasuki rumah itu, langsung menuju apa yang mereka cari.
Dan, di luar, keadaan komplek sepi saja. Siang itu seperti tak terjadi apa-apa.
. . .
Lelaki itu tergolek di atas tempat tidur, di sebuah ruangan rumah sakit swasta itu. Seorang wanita muda, duduk disampingnya, matanya sembab. Sementara seorang gadis cilik, tertidur kelelahan di sudut kamer beralas karpet, setelah tak berhenti menangis, melihat ayahnya yang tak sadarkan diri sejak beberapa jam yang lalu.
Ada memar hebat dan luka sobek di bagian kepalanya, pemeriksaan dokter memvonis gegar otak akibat benturan hebat yang telak menghampiri tempurung kepalanya. Cairan infus mengalir perlahan, seirama dengan detak jantungnya yang perlahan mulai stabil.
Di luar, di ruang jaga, beberapa perawat menonton berita perampokan di sebuah rumah mewah di kota mereka itu, semua penghuni rumah saat kejadian tak ada yang menyisakan nyawanya. Seisi brankas habis dikuras, untunglah tuan rumah sedang tak ada di tempat, walaupun tampak pucat saat di wawancarai olehpara pencari berita.
. . .
Dua hari yang lalu..

“Kau mau apa sekarang ?” Katanya sambil memegang jemari lembut dihadapannya.
Gadis pemilik jemari itu tersenyum, lalu sebuah ide iseng, tiba-tiba saja terlintas di otaknya.
“Lamar aku, sekarang. Bisa ? “ Katanya sambil tertawa pelan. Dan beberapa detik kemudian, lelakinya sejurus langsung berlutut di hadapannya, wajah gadis itu menghangat, tak siap menerima konsekuensi dari permintaannya sendiri.
“Ok. Kamu,Manda Catahartica, mau kan jadi pendamping hidupku ?” Lelaki muda itu, sambil tetap berlutut di depan gadisnya, yang masih tak henti terkejut, tak menduga sama sekali. Apalagi cafe itu sedang ramai-ramainya malam itu. Beberapa pengunjung menatap keduanya.
Belum habis rasa terkejutnya, lelakinya itu, merogoh saku kemejanya,mengeluarkan seutas cincin platinum. Sang gadis pun, cuma bisa terhenyak, menutup mulutnya. Tanpa banyak bicara, cincin itu berusaha dipakaikan pada jemari manisnya.
Lalu mereka berdua tertawa, “Gak muat” Hampir berbarengan mereka mengatakan itu, akhirnya sang cincin tetap terpasang, di kelingkingnya. Dan gadis itu tak keberatan, malah mendaratkan ciuman hangat di pipi kanan lelakinya. Tak lama, terdengar riuh, beberapa pengunjung yang sadar akan kejadian di hadapan mereka, memberikan tepuk tangannya, sang gadis cuma bisa tersipu.

. . .
Sehari sebelumnya.
Lelaki berseragam putih itu, lagi berbicara dengan seseorang rupanya di telepon genggamnya, sedikit pucat wajahnya, dahinya berkeringat.
“Aku ga berani lagi, To”
“Sekali ini saja lagi, Har. Habis itu sudah, aku tak minta bantuanmu lagi’ Sahut seseorang di seberang sana.
“Kau tau sendiri kan, To. Aku sudah lama memutuskan ga ikutan lagi, lagian siapa lagi sasaran kalian kali ini ?” Ada terselip sedikit penasaran rupanya.
“Irawan Jayakusuma” Singkat saja jawaban yang didapatkannya.
Lelaki itu semakin terlihat gugup, tak langsung membalas, mendadak siang itu terasa mendidihkan kepalanya. Semua logikanya seakan tak ada lagi.
“Kamu gila apa, kamu mau beraksi disini ? Gila kalian !”
“Tenang saja, kau juga akan dapat bagian seperti biasanya, dan aku janji, ini terakhir kali mengikutsertakan kamu. Teman-temanku juga tak kenal denganmu. Kamu akan aman dari segala tuduhan, percaya aku. Lagian dengar-dengar kamu lagi perlu uang, kan ?”
Tak ada jawaban,hanya diam.
“Besok siang, kami kesana. Kamu tinggal kasih info yang aku perlukan. Ok ?” Tanpa perlu jawaban lagi, sambungan terputus.
. . .
Beberapa hari kemudian..
Di sudut kampung itu,di teras sebuah rumah kayu. Seorang lelaki bercanda dengan gadis ciliknya, berkejar-kejaran sampai ke halaman depan. Tertawa-tawa.
Lelaki yang sudah lama merencanakan hidup baru atas hidup lamanya.
Awalnya tak mudah meyakinkan temannya, untuk merampok rumahnya sendiri. Meyakinkan semua teman akrabnya bahwa semua aman. Waktu yang dipilihnya sendiri, saat dia merencanakan untuk keluar kota, dan yang ada di rumah, Cuma beberapa pembantu dan istrinya, serta seorang satpam. Dan, semua berjalan sesuai rencana, rupanya.
Tak lama, seorang tukang pos, berhenti di pintu rumah mungil itu.
“Ada paket, pak..”
Sambil tetap menggendong Putri manjanya, menghampiri pak pos yang sudah tak muda lagi itu. Setelah membubuhkan tanda tangan pada form penerima. Pak pos itu pun berlalu, sementara lelaki itu tersenyum sambil menimang-nimang kotak kecil berbungkus coklat itu. Ada tulisan dengan spidol di bagian depannya,
..untuk Irawan J.
. . .
Sepasang manusia itu, menyusuri pantai yang tenang, tak begitu ramai juga.
Jemari mereka bertautan, tak saling bicara. Hanya merasakan debur jantung yang tak henti, bersahutan dengan ombak yang berlomba mencapai garis pantai.
Lalu seseorang, mengejar mereka. Berlari-lari saja.
Sesampainya di dekat mereka, seorang pemuda, memegang pundak lelaki berkaos biru tua itu.
“Dipanggil-panggil ga denger-denger euy. Apakabarnya, To ?”
Yang dipanggil To terperanjat lalu tersenyum, menjabat erat tangan sang penyapa.
“Hey, kabar baik, sama siapa ?”
“Tuh..” Menjawab singkat, sambil mengangkat dagunya ke arah seorang wanita muda dan seorang gadis cilik, tak jauh di belakang mereka. To melambaikan tangannya ke arah mereka.
“Oh ya, perkenalkan istriku, Manda “ Yang dipanggil tersenyum manis, mengangsurkan tangannya.
“Manda..”
“Sahar ”
“Ok, ya. Kami mau jalan lagi.” Tangannya kembali menggenggam erat tangan wanitanya, yang berhias cincin putih di kelingking kirinya.
Sementara, cuma mengangguk. Dan hawa terasa cukup panas rupanya, hingga ada terbit bulir keringat, di dahinya yang ada bekas luka sobek itu.

Penyerbukan

January 4, 2012

Siang-siang gini, enaknya ngomongin tentang penyerbukan.  Yang mana menurut wikipedia, adalah ..

jatuhnya serbuk sari pada permukaan putik. Pada sebagian besar bunga, peristiwa ini berarti “jatuh pada bagian kepala putik“. Penyerbukan merupakan bagian penting dari proses reproduksi tumbuhan berbiji. Penyerbukan yang sukses akan diikuti segera dengan tumbuhnya buluh serbuk yang memasuki saluran putik menuju bakal biji. Di bakal biji terjadi peristiwa penting berikutnya, yaitu pembuahan..

Kadang diperlukan cara yang aneh biar penyerbukan berhasil, kayak penyerbukan pada salak, bunga jantannya harus dipotong terus di letakkan di bunga betina.

Ada juga yang perlu bantuan hewan lucu semacam lebah, kumbang ataupun kupu-kupu, atau malah burung.

Ada pula yang harus pakai bantuan angin, juga pake perantara air, biar sukses.

Untungnya, manusia bukanlah tumbuhan. Yang tak perlu perantara untuk menyerbuk *halagh*

Demikianlah.

*postingan opo iki 😐

Tukang Warung itu..

January 3, 2012

Kadang sebelum berangkat sekolah, si bungsu minta mampir ke warung di tengah perjalanan menuju sekoahnya, minta jajan.  Seperti halnya barusan pagi ini.

Warung tempat membeli jajan tadi lumayan lengkap, dan yang menyenangkan adalah pelayanannya yang cepat dan yang melayani pun ramah, full of senyum, yang wajar, tulus dan tak dibuat-buat. 

Beda dengan beberapa minggu yang lalu, mampir beli jajan di sebuah minimarket, dan suasananya bikin males.  Pintu minimarket memang sudah dibuka, dan dua pelayannya sibuk ngobrol, seakan tak peduli dengan pelanggan yang datang, kemudian masih sibuk nyapu-nyapu.  Bayangin tuh, hasil nyapu-nyapu di minimarket yang relatif tertutup dan tak sebegitu luas, debu euy !  Dan endingnya lebih parah, tak ada senyum sama sekali dari kasir, plis deh, jualan kok kayak ga niat toh..

Beda lagi di, kala berada di sebuah pusat pertokoan, ketemu dengan pelayan toko yang terlalu aktraktif nawar-nawarin dagangannya.  Atau kadang malah menguntit kemana pun saya melangkah, iya sih itu langkah preventif terhada hal-hil yang tak diinginkan terhadap pelanggan yang mungkin berniat ga baik.  Tapi tetap saja jadi tak nyaman.

Nah jadi kesimpulannya, tempat berbelanja yang nyaman itu seperti apakah ? *malah nanya*

 

catatan :

*cerita di atas berdasarkan survei eh pengalaman pribadi pada beberapa warung/toko.

Sunat Tahun Baru

January 2, 2012

Selamat tahun baru, bagi yang merayakan.  Marilah saya posting yang bermanfaat di tahun baru ini.  Tentang topik yang berkenaan dengan kelangsungan hidup umat manusia di atas bumi ini, yaitu : sunat.

Kalau urusan sunat menyunat pasti konotasi, implikasi, dan konjugasinya ke lelaki, padahal perempuan juga disunat juga, paling ngga di kampung saya sepertinya masih begitu adanya.

Cuma membandingkan saja sunat jaman sekarang dengan jaman saya dulu, sekarang sudah canggihh, yang paling sederhana pun sudah menggunakan jarum suntik dan peralatan medis yang steril.

Belum lagi sekarang ada bermacam metode semacam metode laser, metode cincin, yang mempermudah proses dan mempercepat penghentian darah yang keluar dari proses sirkumsisi.

Kalau dulu, dan sekarang juga masih ada sih, ahli sunat yang terkenal di kampung saya disebut habib.  Peralatannya sederhana, sepasang kayu yang dibentuk jadi semacam sumpit apa pinset ya ? pokoknya semacam itu lah.  Trus ga pake jahitan.  Dan alat pengeksekusinya pun bukan gunting, melainkan pisau yang amat tajam.

Nah kalo dipikir-pikir, malah lebih canggih metode gitu ya, ga perlu gunting, jarum suntik dan bius.  Hasilnya juga nganu, ya sama lah, intinya kan membuang lapisan preputeum, demi kebersihan begitulah.

Di seputaran Jogja juga ada katanya tradisional, bong supit namanya, yang konon hasilnya malah jauh lebih canggih dari metode konvensional.

Dan ah iya, sudah tahun baru aja, semacam sunat itu, tahun baru ini semoga lapisan yang tak penting bisa dibuang, menyisakan hal-hal terpenting hingga bisa mencapai tujuan yang diinginkan.

*sungguh perumpamaan yang aneh

—-

catatan :

*maaf tak ada skrinsut ataupun gambar dari proses maupun hasil dari sunat di postingan ini

Awal yang tak baik bukan berarti tidak baik nantinya

December 30, 2011

Saya jadi terinagt akan sebuah episode Amazing Race, balapan keliling dunia, satu-satunya mimpi yang tampaknya jelas tak terwujud *hloh malah curcol*

Di episode itu, biasalah menuju sebuah titik tempat, yang kalau nggak salah menuju mbuh dimana saya lupa *hening*, nah taksi yang ditumpangi salah satu tim ternyata rusak.  terpaksa lah berjalan kaki menuju tempat yang sudah ditentukan.

Ternyata, setelah menyelesaikan tugas yang sudah ditentukan, sebelum menuju titik berikutnya, semua tim harus membayar ongkos taksi terlebih dahulu, sementara jarak antara taksi dan tempat mereka berada lumayan jauh.  Jadi makan waktu lagi.

Akhirnya, sementara yang lain sibuk bayar taksi, tim yang tadi berjalan kaki, langsung aja melenggang ke tempat berikutnya.

Jadi kesimpulannya, hal yang awalnya dirutukin, dikira kesialan, siapa tahu justru awal dari keberuntungan.

*catatatan

*mudah-mudahan udah pada pernah nonton acara keren itu
*susah ternyata ngegambarin lewat tulisan, jadi kalo ga ngerti saya maklum kok
*judulnya ternyata mbulet, ya semoga saja paham walaupun saya juga bingung

Merasa Sedikit

December 29, 2011

Mari istirahat sejenak dari siang yang tampaknya adalah mau hujan tapi nyatanya tidak jadi.  Saya malahan teringat akan sepotong kalimat dari ustadz Maulana, yang masih terekam dari cuplikan acara tadi pagi di televisi.

Kata beliau .

‘merasa sedikitlah kala memberi,
dan merasa banyaklah saat diberi’

Saya sendiri, sering ngerasa kebalik aja euy.  Dikasih apapun sama siapapun, rasanya kadang ‘kok cuma segini sih ya?

Di lain waktu, kala ngasih apapun asma siapapun, mikirnya beraat amat.  Jadi teringat perkataan entah siapa, asli lupa. Katanya kadang ngasih buat parkir enteng aja, tapi giliran ngasih buat selain tukang parkir, rasa ngga relanya ampun-ampunan.  Tambah mikir yang macem-macem lagi, ya begitulah.

Demikianlah adanya, selamat melanjutkan makan bagi yang lagi makan siang-siang, dan mari saya teruskan lagi untuk ngapa-ngapainnya.

—–

*catatan

*ya ya ngomong dan ngetik emang kadang lebih enakan daripada ngelakuinnya
*terlalu banyak pertimbangan dalam apapun sering tak baik juga
*baru nyadar tumben ga inget inpotenmen pagi2 tadi

Diet Sederhana ala Orangtua Jaman Dulu

December 27, 2011

 

Kemarin mampir sebentar di toko buku, yak sekedar mampir, cuma melihat-lihat, tak membeli satupun jua *ga ada yang nanya woi*

Kebetulan ada diskon akhir tahun padahal, sangat menggoda, ya paling tidak survei dulu lah.  Dan ada satu buku tebal dengan cetakan lux yang menarik perhatian saya.

Yaitulah biografi Titiek Puspa, artis senior di negeri ini, ya ya salah satu bacaan favorit saya kebetulan adalah biografi seseorang, siapapun itu. Dan karena ada salah satu buku yang dipajang tidak terlapisi segel plastik, maka saya baca-baca saya bab pertamanya.

Isi awalnya  adalah tentang masa-masa kecil beliau yang sungguh merupakan sejarah hidup yang luar biasa, hidup di jaman penjajahan memang tak ada senang-senangnya.

Lalu ada bagian kecil yang menarik perhatian saya, yaitu kebiasaan bapak dan ibu beliau, yaitu puasa.  Tak cuma puasa yang biasa dijalankan sebagai ibadah, tapi juga puasa terhadap beberapa jenis makanan tertentu.  Mungkin kalo bahasa kerennya sekarang adalah diet.

Yang saya tahu sebelumnya sih ada yang namanya mutih, yaitu cuma makan nasi putih seharian.  Eh ternyata ada lima macam puasa lagi.

Kebiasaaan orang tua beliau yang lainnya adalah *saya lupa istilah-istilahnya* puasa makan yang mengandung garam, kemudian puasa dari makanan lain selain buah-buahan, cuma makan sayur-sayuran, dan cuma makan umbi-umbian.

Dan saya pikir itu logika kebiasaan orang-orang jaman dulu yang sudah teramat jarang dilakukan sekarang, yang membuat badan sehat, soalnya makanan yang dikonsumsi terkontrol secara tak langsung.

Contohnya puasa makan tanpa garam seharian, logikanya kan mengatur kadar garam dalam tubuh, kira-kira demikian.  Katanya kalo kebanyakan garam bisa darah tinggi pula.

Dan memang, program diet itu kan intinya adalah mengatur pola makan, biar pun pake program secanggih apapun, pake olahraga sekeras apapun, kalau tak bisa menahan diri dari godaan makanan ya ambyar semua programnya.

Tak pelak lagi, program ‘puasa’ adalah cara yang bagus buat diet, mungkin kalau sekarang ditambah lagi dengan puasa junkfood K

Demikianlah.

—–

*catatan*

*buku biografi mbak Titiek Puspa itu harganya lumayan euy, layak dibeli
*menahan godaan dari makanan enak itu memang .. sungguh..

*diet buku bagus itu juga kadang berat.. apalagi pas akhir tahun..

Tanggapan Iseng

December 23, 2011

Menengok tulisan cerdas punya Pokijan kemarin, jadi tertarik untuk menelaahnya, halagh menelaah, melihat kritik halus yang dibalut percakapan para tokoh yang namanya unik-unik.

Mari lihat pada cerita pertama, tentang Urban lifestyle? Iya jarang, soalnya lebih banyak dibahas di keluarga salingsiang yang lain, di curipandang.com ranahnya.

Kemudian tentang gender yang encouraging? Ah ide bagus ini, semoga suatu saat masbak Pokijan tersebut mau ngasih contoh yang keren.  Asli ditunggu sekali.  Walau kadang, sejak dulu ada yang membahasnya, tapi dengan gaya bahasa mereka masing-masing, tak seserius jurnal tentunya.

Dan soal diskusinya,iya bener sekali, kalo yang lebih mengasah otak, apalagi soal politik di Politikana kadang memang asik sih, tapi ya disini sekali lagi banyak yang bercerita dengan gaya masing-masing dan berwarna warni, itu mungkin bedanya 😀

Lalu soal …gak mencerdaskan ?. Isinya ngalor-ngidul
Hmm ini maksudnya nyindir saya ya ya ? karena sering nulis ga jelas ya ya ? *esmosi sendiri huehehehe
Saya rasa takada standar kan untuk sebuah tulisan itu cerdas apa nggak.  Semuanya punya caranya sendiri, ah kembali ke kalimat itu lagi hehehe maklumlah, saya juga susah merangkai kalimat cerdas, mudah-mudahan ntar ada yang mau ngasih contohnya ? 😀 
dan soal sekitar cinta-cintaan, patah hati, kesepian, kayak websites remaja , ya tapi isinya emak-emak?. Ya ga ada batasan kan untuk bercerita apa saja disini, semacam menjaga hak asasi manusia, termasuk untuk bercerita apa saja  😀

Kemudian .. seputar buku, film, DVD, CD, konser?  Nah, soal ini silakan tengok di curipandang.com dan bicarafilm.com , silakan aja tengok kesana, gan 😀

Trus , ..info kenceng soal sale, best buy or recommended products .. nah ide bagus juga, walo soal ginian jg sering dibahas di CP juga kayaknya, dan kalo soal info hangout itu sering dibahas di jalansutra.co.id…. Berkunjunglah kesitu bila sempat 😀.

Nah, kemudian soal seks duri lunak kayak bandeng presto ?. Itu dia tantangannya, bikin tulisan gituan tapi ya ga segitu-gitunya *bahasa apa ini*, keren kan ? :))

Terus tentang  Kesan selintas Ngerumpi tuh eksklusif banget, orangnya kayaknya saling kenal, jadinya kurang welcome sama orang baru apalagi sama debat. Lah justru kebalikannya lah, disini semua welkam, dan wajarlah kalo kadang saling kritik tapi sekaligus emang cara menyampiakan kritiknya ya beda-beda, termasuk cara yang nulisnya masmbak Pokijan itu.

Dan katanya Negeri Ngerumpi memang menjauhi yang gemerlap, dan kurang suka dengan kontroversi yang memicu konflik, sekalian doyan topik ringan karena kehidupan sudah ruwet jangan dibikin tambah kusut  Lah hidup memang untuk dinikmati kan, tapi kadang sesekali rusuh juga kok, ayo aja sok kalo mau bikin kerusuhan disini, malah tambah rame *hloh :)).

Bagian terakhir, soal judulnya, hedeh mana bisa saya komen, wong saya lelaki euy *halagh dibahas juga

Demikianlah,

————-

catatan

*iseng nanggapin sekilas tulisan orang itu kadang menyenangkan
*udah aja ah catatannya, keliatan sekali ga bisa nulis kalo kebanyakan catatan kaki, memalukan sekali
*dan salingsilang.com semakin berwarna warni saja sekarang

I’m not cinderella

December 21, 2011

Hari sabtu, summer yang indah, area bernama Rotterdam centrum tampaknya adalah pilihan yang menarik untuk menghabiskan sepanjang sore,  dan sepeda biru berkeranjang itu sudah sabar menunggunya.

Kakinya sudah saja melangkah, menuju titik yang seperti terpetakan jelas di otaknya.  Sekilas rayuan diskon beberapa hari yang lalu cukup menggodanya, saat tak sengaja, oke sebenarnya sengaja menatap tulisan sederhana di balik kaca Shoeline, saat bergegas memasuki stasiun metro.

Ya ya wanita tak bisa menahan godaan sepasang sepatu cantik, rupanya.  Paling tidak berlaku bagiku‘  Pikirnya sendiri.

Sesampainya di Beurstraverse, matanya berbinar,  melihat wedges marun yang entah sejak kapan cuma merayunya itu, sekarang disitu, iya disitu, dengan harga cuma seperlimanya saja dari label awal yang dulu sempat sekilas dilihatnya.

Sigap, mengambilnya, dan..

“Maaf, yang kirinya ada nggak ya ?”  Dia mengangsurkan sepatu kanan yang tanpa ada pasangannya itu ke panjaga toko.
Tanpa menjawab, penjaganya cuma mengangguk, lalu mengambilnya, mengamatinya, lalu berlalu ke bagian dalam.

Katrina menunggu, wajahnya tak bisa menyembunyikan isi hatinya, tersenyum-senyum sendiri. Dan tak lama, si marun kanan itu kembali ada ditelapak tangannya, dan senyum cerahnya pun meredup.
“Nggak ada ? ”  Tanyanya lagi, memastikan. “Sudah dicari?”

“Iya, nona.  Maaf, adanya nomor delapan.”
“Saya kan maunya yang nomor tujuh..”
“Atau kalau memang nona mau, bawa saja”. Penjaga toko itu tersenyum lebar.  “For free” Lanjutnya kemudian.

“Terimakasih, but I’m not a cinderella..” Sahutnya, manyun.  Dan penjaga toko itu tak bisa menahan tawanya.

 

—-

*catatan

*nggak ada catatan dulu kali ini
*terimakasih pada gugel maps
*beberapa kali posting barusan gagal terus, sentimen nih 😐

 

I’m not cinderella

December 21, 2011

Hari sabtu, summer yang indah, area bernama Rotterdam centrum tampaknya adalah pilihan yang menarik untuk menghabiskan sepanjang sore,  dan sepeda biru berkeranjang itu sudah sabar menunggunya.

Kakinya sudah saja melangkah, menuju titik yang seperti terpetakan jelas di otaknya.  Sekilas rayuan diskon beberapa hari yang lalu cukup menggodanya, saat tak sengaja, oke sebenarnya sengaja menatap tulisan sederhana di balik kaca Shoeline, saat bergegas memasuki stasiun metro.

Ya ya wanita tak bisa menahan godaan sepasang sepatu cantik, rupanya.  Paling tidak berlaku bagiku‘  Pikirnya sendiri.

Sudah di Beurstraverse saja, dan matanya berbinar,  melihat wedges marun yang entah sejak kapan cuma merayunya itu, sekarang disitu, iya disitu, dengan harga cuma seperlimanya saja dari label awal yang dulu sempat sekilas dilihatnya.

Sigap, mengambilnya, dan..

“Maaf, yang kirinya ada nggak ya ?”  Dia mengangsurkan sepatu kanan yang tanpa ada pasangannya itu ke panjaga toko.
Tanpa menjawab, penjaganya cuma mengangguk, lalu mengambilnya, mengamatinya, lalu berlalu ke bagian dalam. 

Katrina menunggu, wajahnya tak bisa menyembunyikan isi hatinya, tersenyum-senyum sendiri. Dan tak lama, si marun kanan itu kembali ada ditelapak tangannya, dan senyum cerahnya pun meredup.
“Nggak ada ? ”  Tanyanya lagi, memastikan. “Sudah dicari?”

“Iya, nona.  Maaf, adanya nomor delapan.”
“Saya kan maunya yang nomor tujuh..”
“Atau kalau memang nona mau, bawa saja”. Penjaga toko itu tersenyum lebar.  “For free” Lanjutnya kemudian.

“Terimakasih, but Im not cinderella..” Sahutnya, manyun.  Dan penjaga toko itu tak bisa menahan tawanya.

 

—-

*catatan

*nggak ada catatan dulu kali ini
*terimakasih pada gugel maps
*demikian